Kali ini aku ingin menuliskan sedikit cerita tentang kampung halamanku Aceh, sudah lama pulang kampung tapi tidak sempat jalan-jalan karena biasanya pulang waktu lebaran. Jadi ketika ke Aceh bulan Mei kemarin, walaupun cuma 4 hari dimaanfaatkan untuk jalan-jalan sepuasnya. Berikut sedikit oleh-oleh ceritanya.
Aceh mengalami musibah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang berarti sudah hampir 6 tahun kejadian yang sangat memilukan itu terjadi. Namun, kita masih bisa melihat tempat-tempat yang menggambarkan betapa dasyatnya kejadian tsunami yang sudah meluluhlantakkan Aceh. Dalam perjalanan dari Bandara Sultan Iskandar Muda menuju pusat kota Banda Aceh sekitar 3 km dari Bandara kita bisa melihat kuburan masal Siron tempat terkuburnya puluhan ribu korban tsunami. Tak hanya satu kuburan masal di Banda Aceh tetapi tiga kuburan, satu lagi di daerah Ule-lheue dan satunya lagi di Lhoknga dua daerah terparah terkena tsunami di Banda Aceh.
Foto di bawah adalah foto sebuah kapal PLTD Apung milik PLN yang tadinya ada di lautan namun karena dihempas gelombang tsunami berpindah ke perumahan penduduk, tidak terbayangkan bagaimana kapal sebesar ini bisa berpindah ke daratan. Saat ini sudah dibangun Taman Edukasi Tsunami disebelah kapal ini yang menandakan bahwa tempat ini merupakan salah satu saksi bisu terjadinya tsunami. Kapal ini boleh dinaiki oleh pengunjung. Dari atas kapal kita bisa melihat daerah-daerah sekitarnya yang tadinya semua bangunan hampir rata dengan tanah namun sekarang rumah-rumah penduduk sudah dibangun kembali.
Untuk mengenang peristiwa Tsunami pemerintah Aceh bersama beberapa LSM membangun museum Tsunami. Museum yang diresmikan pada tanggal 23 Februari 2009 ini memiliki desain menyerupai kapal. Begitu masuk ke dalam museum kita akan melewati The Tunnel of Fear yang merupakan sebuah lorong yang berupa koridor sempit dengan dinding tinggi dan air terjun yang bergemuruh. Efek ini untuk membentuk suasana psikologis dan mengingatkan betapa menakutkannya saat tsunami terjadi.
Kemudian kita terdapat ruangan yang disebut Blessing Chamber. Ruangan ini berupa sumur tinggi yang dalam perencanaanya akan dituliskan nama-nama korban bencana pada dindingnya, namun saat aku kesana belum ada. Sumur ini diterangi oleh skylight berbentuk lingkaran dengan kaligrafi Allah SWT, sebagai makna hadirnya harapan bagi masyarakat Aceh.
Di dalam ruang pameran diputarkan video-video kejadian Tsunami dan ditampilkan foto-foto pasca Tsunami. Pengunjung museum tidak hanya wisatawan lokal tetapi banyak juga wisatawan manca negara. Saat ini tiket masuk ke museum masih berupa sumbangan seikhlasnya, mudah-mudahan bangunan museum tetap terjaga dengan baik.
Jejak-jejak tsunami ini menggambarkan bagaimana kuasa Allah mendatangkan bencana tsunami untuk mengingatkan manusia yang mungkin lupa pada-Nya atau juga karena Allah terlalu sayang kepada masyarakat Aceh yang sebelumnya terus-terusan berada dalam situasi konflik. Semua itu rahasia Allah, hanya Allah yang tahu.












lagi-lagi fotonya keren-keren siapa yang moto ya?…:D
@abang: huh..commentnya yg bgs dikit donk
saat membaca kisah ini aku bsedih bgt teringat kembali smua kenangan di ule lheue walopun aku bukan orang Banda Aceh tapi aku pernah tinggal di ule kareng, pangodeah dan ule lheue sekitar tahun 2002-2003 dan bersyukur bisa merasakan ramadhan dan lebaran di sana. setelah tsunami saya ke ule lheue 2 kali untuk mencari tunanganku tinggal di seberang lapangan ule lheue yang malam sebelum tsunami msh komunikasi pada saat itu aku sdh balik ke jakarta, sampai sekarang aku akan selalu mencarinya