Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, adalah salah satu bangunan di Aceh yang memiliki keindahan dan keelokan arsitektur. Jika orang India bangga dengan Taj Mahal, maka orang Aceh bangga dengan masjid ini. Sejarah dan masa depan sepertinya sedang bercakap-cakap di masjid itu sekarang. Masjid dengan tiang 280 buah ini adalah saksi perjalanan sejarah Aceh. Masjid ini juga menjadi tempat berlindung dari sapuan tsunami.
Inilah masjid sejarah dan saksi bisu perjalanan Islam di Nusantara. Saksi bisu perjuangan rakyat Aceh. Menurut sejumlah literatur, masjid ini dibangun pertama kali pada 1292 M atau 691 H, oleh Sultan Alaidin Mahmud Syah I, cucu Sultan Alaidin Johan Syah. Namun ada yang menyebut usianya jauh lebih muda karena dibangun di zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada saat pertempuran dengan Belanda, Belanda pernah membakar masjid ini pertama kali pada 14 April 1873, tatkala serangan cepat dan besar-besaran mereka lakukan terhadap pejuang Aceh. Karena tak bisa merebut, Belanda pun membakarnya. Dalam pertempuran tersebut salah satu Jenderal Belanda yaitu Mayor Jenderal Kohler tewas di tempat ini.
Sejak diberlakukannya syariat Islam di Aceh, setiap orang yang memasuki areal mesjid diharuskan menggunakan busana muslim / muslimah.
Bagi anak-anak, masjid ini sekaligus dijadikan lokasi bermain seusai mengaji di TPA masjid yang sama. Anak-anak Aceh mendapat “bimbingan” karena kehadiran masjid cantik tersebut di tengah-tengah mereka. Tak lengkap kalau ke Banda Aceh, jika tidak mampir atau shalat di masjid ini. Jika masuk ke dalam, kesejukan dengan cepat menjalari tubuh kita. Keindahan masjid yang menjadi icon Aceh ini dapat dinikmati baik pada siang maupun pada malam hari.








Akhirnya bisa mempromosikan kampung halaman
waaah…keren banget ya…fotonya juga bagus, siapa sih kl boleh th yg motret?
bang syadid pertanyaannya retoris.. hahahaha..
@arif: iya ni bang syadid pertanyaanya, minta dipuji hasil jepretannya bagus ;p
Jadi undangan nya kapan nih?? Jangan di Aceh yah. :p
@andre: undangan apa ni dre?
ditunggu aja undangan ke acehnya